ihh

Welcome To I Am Alvian's Blog.. CeKiDot.....>>>>

Rabu, 31 Oktober 2012

MAKALAH KENAIKAN HARGA CABAI

MAKALAH
EKONOMI PERTANIAN
FENOMENA KENAIKAN HARGA CABAI









 




Disusun Oleh :

Nama              : Vivi Alviani
NIM                : 11964/ PN
Jurusan           : Hama dan penyakit tumbuhan
Fakultas          : Pertanian





FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Bagi masyarakat Indonesia, cabai merupakan salah satu bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan masakan sehari-hari. Cabai adalah bahan pelengkap masakan yang sangat digemari masyarakat Indonesia, namun konsumsi cabai masyarakat indonesia bisa dikatakan tidak terlalu tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari konsumsi cabai per kapita per orang tiap tahunnya. "Secara keseluruhan, total konsumsi cabai masyarakat indonesia sebesar 1.2 juta ton per tahun dibagi 250 juta penduduk Indonesia. Itu setengah kilogram per tahun," ujar Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi. Jadi, secara keseluruhan, konsumsi cabai per kapita per orang di Indonesia hanya sekitar 0.5 kg per tahun. Namun, selama beberapa pekan terakhir konsumsi cabai per kapita per orang di Indonesia semakin turun, hal ini karena Mulai akhir 2010, komoditas cabai mengalami kenaikan harga yang luar biasa. kenaikan harga cabai mencapai Rp 100.000,00 hingga Rp 150.000,00 per kg dari harga awal yaitu sekitar Rp 30.000,00 per kilo.
Penurunan harga cabai yang mulai terlihat beberapa waktu terakhir ini juga memperlihatkan pola yang tidak biasa. Berdasarkan pola historis, inflasi cabai biasanya diikuti oleh deflasi pada bulan selanjutnya dengan magnitude yang kurang lebih sama sehingga harga cabai cenderung kembali turun di sekitar level harga ketika sebelum terjadi kenaikan. Namun, hingga awal tahun 2011 harga cabai masih bertahan pada level yang tinggi. Dengan kata lain, harga cabai lambat untuk turun kembali. Meningkatnya harga cabai yang cukup signifikan tersebut ditengarai terkait dengan menurunnya pasokan yang dipengaruhi oleh adanya gangguan produksi yang cukup parah. Curah hujan yang lebih tinggi (kemarau basah) yang terjadi hampir disepanjang tahun tidak mendukung produksi tanaman cabai dan tanaman hortikultura lainnya pada umumnya. Selain itu, spekulasi pedagang ditengarai memperparah besarnya kenaikan harga.
Dan hal ini Diperparah dengan nilai tukar rupiah yang semakin merosot. Apabila Inflasi yang terjadi saat ini tidak segera dilakukan tindakan penyelesaiannya, maka dikhawatirkan akan terus menjadi tekanan terjadinya inflasi yang semakin besar dimasa mendatang. Karena itu harus segera dilakukan tindakan penyelamatan terhadap system perekonomian Indonesia.
B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.     Bagaimanakah budidaya cabai dan pemasarannya?
2.     Berapa rata-rata harga cabai setiap tahunnya?
3.     Apa yang menyebabkan melonjaknya harga cabai di indonesia?
4.     Apa dampak yang ditimbulkan dari kenaikan harga cabai bagi masyarakat?
5.     Apa solusi terbaik untuk mengatasi kenaikan harga cabai?

C.      Tujuan
Sesuai dengan permasalahan diatas maka tujuan pembuatan makalah “Fenomena Kenaikan Harga Cabai di Indonesia” ini adalah untuk memberikan Informasi kepada semua orang tentang kenaikan harga cabai, apa saja dampak yang ditimbulkannya dan bagaimana cara mengatasinya karena hal ini merupakan suatu fenomena tahunan yang kerap terjadi dan harus ditangani dengan serius karena dapat merugikan petani, masyarakat dan negara.


BAB II
PEMBAHASAN

1.        Budidaya Cabai dan Rantai Pemasarannya
Budidaya cabai dilakukan secara monokultur atau tumpang sari dengan tanaman lainnya. Tanaman cabai pertama kali dipanen pada umur 80 – 90 hari tergantung jenisnya. Dalam satu periode tanam, cabai dapat dipanen beberapa kali; bila musim dan perawatannya baik dapat dipanen 1517 kali, namun umumnya sebanyak 1012 kali.
Tabel 1
 Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Cabai di Brebes 20082010
Sumber Data: BPS, Hasil Pengolahan SIMSPH (Sistem Informasi Manajemen Survei Pertanian Hortikultura) Brebes

Perawatan tanaman cabai lebih rumit dibanding perawatan tanaman hortikultura lainnya, sehingga biaya perawatan tanaman cabai menjadi lebih mahal. Selain dibutuhkan pupuk yang cukup dan penyemprotan hama/penyakit yang lebih sering (terutama apabila banyak hujan), tanaman cabai juga memerlukan sinar matahari yang memadai. Musim hujan yang berkepanjangan pada tahun 2010 membuat produksi cabai turun drastis. Contohnya di Brebes, produksi cabai merah tahun 2010 turun 55,94 persen dari tahun sebelumnya bahkan produksi cabai rawit turun lebih tajam sebesar 65,46 persen (Tabel 1).
Rantai pemasaran cabai di beberapa daerah hampir sama. Petani menjual cabai ke pedagang pengumpul di sekitar tempat tinggal petani. Pedagang pengumpul menjualnya langsung ke pedagang eceran atau lewat pedagang besar. Cabai yang diperoleh pedagang besar selanjutnya dijual langsung ke pedagang eceran atau melalui distributor/ pedagang grosir. Dari tangan pedagang eceran, cabai sampai ke tangan konsumen. Contoh rantai pemasaran cabai dapat dilihat di Gambar 1.
Gambar 1
 Rantai Pemasaran Cabai Dari Petani ke Konsumen



2.       Rata-Rata Harga Cabai di Indonesia
Tabel 2
Ratarata Harga Cabai Pada Berbagai Tingkatan Selama Tahun 2009-2011 (Rp)
Rantai Pemasaran
Harga Terendah
Harga Tertinggi
beli
jual
beli
jual
Cabe merah kriting
Cabe rawit Merah
Cabe merah Kriting
Cabe rawit merah
Cabe merah kriting
Cabe rawit Merah
Cabe merah Kriting
Cabe rawit merah
Petani


3500
6500


33700
40000
Pedagang pengumpul
3500
6500
4000
7600
33700
40000
37000
43000
Pedagang besar
4000
7600
4700
9000
37000
43000
42000
47000
Pedagang eceran
4700
9000
5600
10600
42000
47000
43800
52000
Rumah tangga
6500
12000


49000
58000


Sumber: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
Dari tabel 2, dapat di lihat bahwa harga cabai mengalami fluktuasi atau kenaikan yang cukup signifikan dari rata-rata harga terendah dan rata-rata harga tertinggi. Harga rata-rata terendah cabe merah keriting yang sampai ke tangan konsumen hanya Rp 6.500,00 sedangkan rata-rata harga tertingginya mencapai Rp 49.000,00. Untuk harga rata-rata terendah cabe rawit merah sebesar Rp 12.000,00 sedangkan rata-rata harga tertingginya yaitu Rp 58.000,00. Kenaikan harga cabai tersebut mencapai 5 kali lipat dari harga terrendahnya. Data tersebut merupakan data kenaikan rata-rata harga cabai di Indonesia, sedangkan dibeberapa daerah, kenaikan harga cabai dapat mencapai Rp 100.000,00 hingga Rp 150.000,00 per kg. "Sebelum Tahun Baru harga cabai mencapai Rp 80.000,00 per kg lalu turun Rp 60.000,00. Setelah itu naik lagi Rp 70.000,00 sampai sekarang naik terus," tutur Aman, pedagang cabai di Pasar Pandansari (06 Januari 2011). Bahkan di pasar tradisional, harga cabai berkisar Rp 80.000,00 hingga Rp 100.000,00 per kg, yang menurut beberapa pedagang bandrol Rp 100.000,00 per kg merupakan harga terendah sebab sebelumnya harga berkisar Rp 120.000,00 per kg. Jika diecer, yang biasanya dengan Rp 2.000,00 pembeli bisa mendapatkan cabai, maka sekarang uang yang harus dikeluarkan adalah minimal Rp 5.000,00," keluh pedagang. Berikut adalah data kenaikan harga cabai yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik Jawa Barat: untuk cabai merah besar, kenaikannya mencapai 102%, sedangkan untuk cabai rawit, kenaikannya mencapai 127%. Padahal pantauan BPS sebelumnya di 7 Kota di Jawa Barat saat Desember 2010, kenaikan harga cabai masih sekitar 60% untuk cabai merah dan 65% untuk cabai rawit. Kenaikan ini mempengaruhi inflasi bahan pangan di Indonesia. “Untuk cabai sendiri, andil inflasi terhadap kelompok bahan makanan adalah sebesar 0.28% untuk cabai merah dan 0.12% untuk cabe rawit,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Lukman Ismail. Semua kenaikan ini dikarenakan permintaan cabai yang meningkat dan musim hujan yang berlangsung pada beberapa pekan terakhir yang mengakibatkan menurunnya jumlah produksi cabai. “Produksi cabai merah di Jawa Barat pada tahun 2009 mencapai 209.000 ton dengan luas area lahan 16 ribu hektar, sedangkan untuk cabai rawit adalah 106.000 ton dengan area lahan 7.849 hektar. Sedangkan data pada bulan Oktober lalu menyatakan bahwa jumlah panen cabai merah menurun menjadi 175.000 ton dengan luas lahan yang sama.



3.       Faktor Penyebab Kenaikan Harga Cabai di Indonesia
Faktorfaktor yang memengaruhi melonjaknya harga cabai di beberapa wilayah di indonesia adalah sebagai berikut :
1.     Anomali iklim: Hasil panen cabai sangat terpengaruh oleh iklim/cuaca karena tanaman cabai membutuhkan sinar matahari yang memadai. Cuaca yang ekstrem pada tahun 2010 (musim hujan yang berkepanjangan) membuat produksi cabai di beberapa wilayah indonesia mengalami penurunan drastis sehingga memicu kenaikan harga.
2.     Hama/penyakit: Selain cuaca ekstrem, gagalnya panen cabai juga disebabkan oleh serangan hama dan penyakit (hama patek, virus kuning, virus mozaik, jamur, dan ulat buah).
3.     Bencana alam di wilayah lain: Secara nasional pasokan cabai di pasar berkurang karena turunnya produksi dari sentra cabai yang terkena dampak letusan Gunung Merapi (seperti Magelang, Yogyakarta, Temanggung) dan Gunung Bromo (sekitar Probolinggo, Pasuruan, Malang). Ini menyebabkan produksi cabai di empat kabupaten penelitian menjadi sumber utama penyediaan cabai di Jawa.
4.     Minat menurun: Jatuhnya harga cabai pada tahun 2009 yang turun sampai Rp3.000Rp4.000 per kg mengurangi minat petani untuk menanam cabai walaupun lahannya tersedia. Penerimaan hasil penjualan cabai yang menurun drastis membuat petani kekurangan modal untuk menanam cabai di musim tanam berikutnya.
Dari berbagai faktor tersebut, Faktor utama yang mengakibatkan harga cabai melonjak yaitu akibat cuaca yang sangat extrim dan tidak dapat di prediksi, akibatnya sangat berpengaruh kepada perkembangan pertanian, dan akibat itu para petani mengakibatkan gagal panen terus menerus dan para petani pun mengalami kerugian yang sangat besar. Sedangkan para petani membutuhkan pemasukan atau modal untuk menjaga tanaman mereka.
Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS ), Rusman Heriawan pun mengemukakan pendapatnya tentang kenaikkan harga cabai di Indonesia. Beliau mengemukakan bahwa kenaikkan harga cabai dikarenakan anomali musim, yang menyebabkan produktifitas cabai menurun, seperti kurangnya sinar matahari, busuk, ada penyakit jamur, kuning, dan patek.
   Jadi menurut beberapa sumber yang ada, dapat di simpulkan bahwa yg paling mempengaruhi kenaikan harga cabai adalah perubahan cuaca yang extrim dan unpredictable. Akan tetapi, selain faktor-faktor yang telah disebutkan, kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti :
1.     Terjadinya ekspektasi kenaikan harga kebutuhan pokok
2.     Biaya transportasi ikut mengalami kenaikan
3.     Bunga bank relatif tinggi untuk pedagang yang meminjam uang di bank,
4.     Danya pungutan-pungutan yang terjadi di lapangan.
5.     Modal yang dimiliki oleh petani tidak mencukupi untuk sekedar melindungi tanaman pangan yang telah ditanam
6.     Kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani kecil di indonesia
7.     Banyaknya tanaman cabai yang di serang hama dan akibatnya banyak petani yang mengalami gagal panen.
8.     Ketidakmampuan pemerintah mengimbangi harga pasar
9.     Buruknya pengelolaan stok pangan nasional
10.  Spekulasi para tengkulak
11.  Hasil panen buruk
12.  Lemahnya regulasi pengaturan harga oleh pemerintah.

4.       Dampak Kenaikan Harga Cabai
Bagi ekonomi Indonesia, dampak yang terjadi adalah kenaikan harga cabai ini mendorong timbulnya inflasi. Sebagai gambaran, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) , ternyata cabai merah memiliki persentase terhadap kelompok bahan makanan 0,28 persen dan cabai rawit 0,12 persen. Kenaikan inflasi ini pada dasarnya merupakan sesuatu yang cukup besar dan cukup mempengaruhi kondisi ekonomi di Indonesia. Dengan kenaikan inflansi ini membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia menjadi terhambat. Terhambatnya pertumbuhan ekonomi ini juga berakibat pada penurunan daya beli masyarakat yang turut berkontribusi terhadap menurunnya tingkat permintaan produk industri. Selain itu, dampak lainnya adalah mendorong penurunan tingkat penyerapan tenaga kerja yang berarti semakin meningkatnya pengangguran.
Berikut adalah diagram alir dampak yang ditimbulkan dari kenaikan harga cabai di Indonesia :

Gambar 2
Diagram alir Dampak Kenaikan Harga cabai



 



















5.       Solusi Mengatasi Kenaikan Harga Cabai di Indonesia
Solusi terbaik untuk mengatasi masalah kenaikan harga cabai di indonesia agar tidak memperparah perekonomian dan tidak menambah beban rakyat kecil adalah sebagai berikut :
1.   Pemerintah perlu melakukan kajian mengenai rantai pemasaran cabai dan bahan pangan lainnya sehingga dapat diketahui pada titik mana terjadi inefisiensi pemasaran untuk selanjutnya dapat diambil langkah-langkah penanggulangannya.
2.   Dilakukan Pengembangan teknologi dan inovasi bidang pertanian
3.   Mengembangkan industri baru pengolahan cabai
4.   Membuat badan logistik pangan
5.   Membuat regulasi pengaturan harga
6.               Memotong mata  rantai tengkulak
7.               Substitusi bahan baku cabai
8.               Penyuluhan yang dilakukan rutin terhadap kelompok tani di Indonesia
9.               Menggunakan alat penopang curah hujan semacam kelambu
10.            Pemerintah harus menyiapkan benih cabai bagi petani
11.            Menghimbau masyarakat untuk menanam cabai di rumahnya masing-masing.
12.            Mengurangi proporsi cabai pada proses produksi
13.            Memprioritaskan permintaan lokal dari pada ekspor
14.            Mengelola bahan baku sendiri
15.            Menambah nilai tambah produk
16.            Mengurangi impor bibit cabai
17.            Mengendalikan stok pangan nasional. Untuk pelaksanaannya perlu dibentuk suatu badan pengawasan pangan yang dapat mengawasi kondisi pangan di dalam negeri.
18.            Melakukan stabilisasi harga pangan nasional. Untuk itu diperlukan adanya regulasi pengaturan harga agar pemerintah dapat berperan penting dan berperan langsung dalam mengendalikan harga pangan khususnya cabai.
19.            Solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi faktor produksi dan distribusi adalah peningkatan produksi pangan dan pertanian yang diikuti dengan perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur vital, terutama jalan negara sampai jalan desa. Peningkatan produktivitas pangan (per satuan lahan dan per satuan tenaga kerja) wajib menjadi acuan strategi kebijakan, karena Indonesia tidak dapat mengandalkan cara-cara konvensional dan sistem budidaya yang telah diadopsi selama 40 dekade terakhir.
20.            Solusi yang dapat ditawarkan untuk menanggulangi faktor perubahan iklim memang tidak ada yang berdimensi jangka pendek, karena proses adaptasi dan mitigasi memerlukan waktu dan proses penyesuaian yang relatif lama. Namun demikian, strategi penguatan cadangan pangan di tingkat pusat melalui Perum Bulog, serta di daerah melalui divisi regional dan sub-regional di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dapat dijadikan langkah penting dalam jangka menengah. Paling tidak, untuk menjaga tingkat aman dan stabilitas harga pangan yang lebih berkelanjutan, cadangan beras yang dikuasai Bulog harus di atas 1,5 juta ton atau lebih. Cadangan beras pemerintah (CBP) di bawah 1 juta ton bukan angka yang aman dalam mengantisipasi eskalasi harga pangan pokok. Artinya, penanggulangan lonjakan harga pangan ini memerlukan kombinasi solusi jitu pada tingkat keputusan politik dengan presisi tinggi pada tingkat teknis ekonomis. Persoalan pangan dan kebutuhan pokok lain bukan ajang eksperimen pencitraan para pemimpin, tetapi merupakan uji kepatutan dan hati nurani kaum elit di negeri ini yang pantas disebut negarawan dan hamba Allah yang beriman.

Sebenarnya petani adalah kunci dari penyelesaian melonjaknya harga pangan ini. Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan perhatian kepada para petani miskin yang ada di Negara ini. Hal ini dikarenakan kegagalan-kegagalan yang dialami oleh para petani di Negara ini adalah dikarenakan modal yang dimiliki oleh mereka tidak mencukupi untuk sekedar melindungi tanaman pangan yang telah ditanam. Hal ini berarti pemerintah seharusnya menyediakan kemudahan bagi para petani miskin untuk melakukan pinjam meminjam modal untuk mengelola pertanian di Indonesia.



BAB III
PENUTUP


a.    Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadinya inflasi tergantung pada sejumlah faktor yang mempengaruhi naik turunnya tingkat harga, juga tergantung pada kebutuhan masyarakat akan barang tersebut.
Penyebab utama tingginya harga cabai adalah faktor cuaca yang ekstrem (musim hujan yang berkepanjangan). Meningkatnya curah hujan menyebabkan pembusukan sehingga produksi cabai berkurang.
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kenaikan harga cabai adalah dengan melakukan stabilisasi harga pangan nasional, memotong mata  rantai tengkulak, mengendalikan stok pangan nasional, mengembangkan industri baru pengolahan cabai, dll.
Petani adalah kunci dari penyelesaian melonjaknya harga pangan (cabai) ini. Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan perhatian kepada para petani miskin yang ada di Negara ini.

b.   Saran
1.     Menggalakkan gerakan tanam cabai di pekarangan rumah sehingga ketika daerahdaerah sentra produksi cabai terkena bencana, masyarakat masih dapat mengonsumsi cabai dari hasil pekarangannya.
2.     Pemerintah perlu mendorong berkembangnya teknologi dan inovasi dalam bidangpertanian di dalam negeri. Kemudian untuk mengendalikan stok pangan nasional perlu dibentuk suatu badan pengawasan pangan yangdapat mengawasi kondisi pangan di dalam negeri. Dan solusi yang terakhir bagi pemerintah adalah dengan melakukan stabilisasi harga pangan nasional. Untuk itu diperlukan adanya regulasi pengaturan harga agar pemerintah dapat berperan penting dan berperanlangsung dalam mengendalikan harga pangan khususnya cabai.
3.     Salah satu penyebab keengganan petani untuk bertanam cabai adalah fluktuasi harga yang tajam. Usulan petani bila memungkinkan dapat diterapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang menjamin kepastian harga. Harga keekonomian cabai sekitar Rp15.000 per kg.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Lonjakan Cabe Disnyalir Ulah Spekulan. <http://www.jpnn.com/read/ 2011/01/05/81171/Lonjakan-Harga-Cabe-Disinyalir-Akibat-Ulah-Spekulan>. Diakses pada tanggal 10 juni 2011.

Arifin, B. 2011. Solusi Kenaikan Harga Pangan Pokok.<http://www.metrotvnews.com>. Diakses pada tanggal 10 juni 2011.

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2011. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi. Jakarta, Badan Pusat Statistik.

Baity, L. 2011. Ada Apa dengan Fenomena Kenaikan Harga Cabai. <http://www.bemkm.ipb.ac.id>. Diakses pada tanggal 10 juni 2011.

Maradona, S. 2011. Harga Cabai Sama dengan Harga Daging. <http://republika.co.id>. Diakses pada tanggal 10 juni 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Google+ Badge

Satistik Blog

Pengikut